<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TANGERANG &#124; Bursa Promosi dan Informasi Online</title>
	<atom:link href="http://tangerangmaya.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tangerangmaya.com</link>
	<description>Jual Rumah, Apartemen, Ruko, Kantor, Mobil, Motor, Komputer, Elektronik, Gadget, Musik, Artikel, Informasi, Tangerang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 03:36:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kerajaan Sunda Galuh</title>
		<link>http://tangerangmaya.com/kerajaan-sunda-galuh.html</link>
		<comments>http://tangerangmaya.com/kerajaan-sunda-galuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 03:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Babad Tanah Jawi]]></category>
		<category><![CDATA[Balangantrang]]></category>
		<category><![CDATA[Ciung Wanara]]></category>
		<category><![CDATA[Galunggung]]></category>
		<category><![CDATA[Gègèr Sunten]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Galuh]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Keraton Darmawangsa]]></category>
		<category><![CDATA[keraton Galuh]]></category>
		<category><![CDATA[Keturunan Manarah]]></category>
		<category><![CDATA[keturunan Wretikandayun]]></category>
		<category><![CDATA[Mahisa Campaka]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>
		<category><![CDATA[parahiyang]]></category>
		<category><![CDATA[Prasasti Calcutta]]></category>
		<category><![CDATA[Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3]]></category>
		<category><![CDATA[Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Sri Jayabupati]]></category>
		<category><![CDATA[Resi Guru Demunawan]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Baduga Maharaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda Galuh]]></category>
		<category><![CDATA[Surotama alias Manarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangerangmaya.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Sunda Galuh adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor, sedangkan ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerajaan Sunda Galuh adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah kota Kawali di Kabupaten Ciamis.<span id="more-840"></span><br />
<strong>Nama Kerajaan</strong></p>
<p>Banyak sumber peninggalan sejarah yang menyebut perpaduan kedua kerajaan ini dengan nama Kerajaan Sunda saja. Perjalanan pertama Prabu Jaya Pakuan (Bujangga Manik) mengelilingi pulau Jawa dilukiskan sebagai berikut: [1] [2]:</p>
<p>Sadatang ka tungtung Sunda =&gt; Ketika ku mencapai perbatasan Sunda<br />
Meuntasing di Cipamali =&gt; Aku menyeberangi Cipamali (yang sekarang dinamai kali Brebes)<br />
Datang ka alas Jawa =&gt; dan masuklah aku ke hutan Jawa</p>
<p>Menurut Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, “Summa Oriental (1513 – 1515)”, dia menuliskan bahwa:</p>
<p>The Sunda kingdom take up half of the whole island of Java; others, to whom more authority is attributed, say that the Sunda kingdom must be a third part of the island and an eight more. It ends at the river chi Manuk. They say that from the earliest times God divided the island of Java from that of Sunda and that of Java by the said river, which has trees from one end to the other, and they say the trees on each side line over to each country with the branches on the ground.</p>
<p>Jadi, jelaslah bahwa perpaduan kedua kerajaan ini hanya disebut dengan nama Kerajaan Sunda.</p>
<p>Keterangan keberadaan kedua kerajaan tersebut juga terdapat pada beberapa sumber sejarah lainnya. Prasasti di Bogor banyak bercerita tentang Kerajaan Sunda sebagai pecahan Tarumanagara, sedangkan prasasti di daerah Sukabumi bercerita tentang keadaan Kerajaan Sunda sampai dengan masa Sri Jayabupati.</p>
<p><strong>Berdirinya kerajaan Sunda dan Galuh</strong></p>
<p><strong>Pembagian Tarumanagara</strong><br />
Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa, pada tahun 669 M menggantikan kedudukan mertuanya yaitu Linggawarman raja Tarumanagara yang terakhir. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh dan masih keluarga kerajaan Tarumanegara, untuk memisahkan diri dari kekuasaan Tarusbawa.</p>
<p>Dengan dukungan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Tarumanagara dipecah dua. Dukungan ini dapat terjadi karena putera mahkota Galuh bernama Mandiminyak, berjodoh dengan Parwati puteri Maharani Shima dari Kalingga. Dalam posisi lemah dan ingin menghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Pada tahun 670 M, wilayah Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan; yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.</p>
<p><strong>Lokasi ibu kota Sunda</strong><br />
Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat hulu Sungai Cipakancilan.[3] Dalam Carita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cakal-bakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M.</p>
<p>Sunda sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian Sungai Cicatih yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menunjukkan letak ibukota Tarumanagara.</p>
<p><strong>Keterlibatan Kalingga</strong><br />
Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri ini adalah cicit Wretikandayun bernama Rakeyan Jamri, yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda ke-2. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan setelah menguasai Kerajaan Galuh dikenal dengan nama Sanjaya.</p>
<p>Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Sundapura, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh.</p>
<p>Sanjaya adalah penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat).</p>
<p>Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Sanjaya menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram (Mataram Kuno) pada tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara.</p>
<p><strong>Prasasti Jayabupati</strong><br />
<strong>Isi prasasti</strong><br />
Telah diungkapkan di awal bahwa nama Sunda sebagai kerajaan tersurat pula dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat (4) buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Sungai Cicatih di daerah Cibadak, Sukabumi. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):</p>
<p>D 73 :<br />
//O// Swasti shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- ka diwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- hen wisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-mottunggadewa, ma-</p>
<p>D 96 :<br />
gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda. mwang tan hanani baryya baryya shila. irikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah. Makahingan sanghyang tapak wates kapujan i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan i wungkalagong kalih matangyan pinagawayaken pra-sasti pagepageh. mangmang sapatha.</p>
<p>D 97 :<br />
sumpah denira prahajyan sunda. lwirnya nihan.</p>
<p>Terjemahan isi prasasti, adalah sebagai berikut:</p>
<p>Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.</p>
<p>Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris, intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, I wruhhanta kamung hyang kabeh (ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).</p>
<p><strong>Tanggal prasasti</strong><br />
Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 &#8211; 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.</p>
<p><strong>Penyebab perpecahan</strong><br />
Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjapada tahun 670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Tiongkok yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjapada tahun 669 M. Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Kaisar Tiongkok dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M.</p>
<p><strong>Sanna dan Purbasora</strong><br />
Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasenawa alis Sena (709 &#8211; 716 M), Raja Galuh ketiga. Tokoh ini juga dikenal dengan Sanna, yaitu raja dalam Prasasti Canggal (732 M), sekaligus paman dari Sanjaya. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora dalam tahun 716 M. Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Batara Danghyang Guru Sempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).</p>
<p>Sebenarnya Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu karena hubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. Tokoh Sempakwaja tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Galuh karena ompong. Sementara, seorang raja tak boleh memiliki cacat jasmani. Karena itulah, adiknya yang bungsu yang mewarisi tahta Galuh dari Wretikandayun. Tapi, putera Sempakwaja merasa tetap berhak atas tahta Galuh. Lagipula asal-usul Raja Sena yang kurang baik telah menambah hasrat Purbasora untuk merebut tahta Galuh dari Sena.</p>
<p>Dengan bantuan pasukan dari mertuanya, Raja Indraprahasta, sebuah kerajaan di daerah Cirebon sekarang, Purbasora melancarkan perebutan tahta Galuh. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa.</p>
<p><strong>Sanjaya dan Balangantrang</strong><br />
Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sena, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa, sahabat Sena. Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.</p>
<p>Sebelum itu ia telah menyiapkan pasukan khusus di daerah Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Pasukan khusus ini langsung dipimpin Sanjaya, sedangkan pasukan Sunda dipimpin Patih Anggada. Serangan dilakukan malam hari dengan diam-diam dan mendadak. Seluruh keluarga Purbasora gugur. Yang berhasil meloloskan diri hanyalah menantu Purbasora, yang menjadi Patih Galuh, bersama segelintir pasukan.</p>
<p>Patih itu bernama Bimaraksa yang lebih dikenal dengan Ki Balangantrang karena ia merangkap sebagai senapati kerajaan. Balangantrang ini juga cucu Wretikandayun dari putera kedua bernama Resi Guru Jantaka atau Rahyang Kidul, yang tak bisa menggantikan Wretikandayun karena menderita &#8220;kemir&#8221; atau hernia. Balangantrang bersembunyi di kampung Gègèr Sunten dan dengan diam-diam menghimpun kekuatan anti Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskar Indraprahasta, setelah kerajaan itu juga dilumatkan oleh Sanjaya sebagai pembalasan karena dulu membantu Purbasora menjatuhkan Sena.</p>
<p>Sanjaya mendapat pesan dari Sena, bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga keraton Galuh lainnya harus tetap dihormati. Sanjaya sendiri tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia melalukan penyerangan hanya untuk menghapus dendam ayahnya. Setelah berhasil mengalahkan Purbasora, ia segera menghubungi uwaknya, Sempakwaja, di Galunggung dan meminta beliau agar Demunawan, adik Purbasora, direstui menjadi penguasa Galuh. Akan tetapi Sempakwaja menolak permohonan itu karena takut kalau-kalau hal tersebut merupakan muslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan.</p>
<p>Sanjaya sendiri tidak bisa menghubungi Balangantrang karena ia tak mengetahui keberadaannya. Akhirnya Sanjaya terpaksa mengambil hak untuk dinobatkan sebagai Raja Galuh. Ia menyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang disenangi. Selain itu sebagai Raja Sunda ia sendiri harus berkedudukan di Pakuan. Untuk pimpinan pemerintahan di Galuh ia mengangkat Premana Dikusuma, cucu Purbasora. Premana Dikusuma saat itu berkedudukan sebagai raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir tahun 683 M), ia telah dikenal sebagai raja resi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapa sejak muda. Ia memiliki julukan Bagawat Sajalajaya.</p>
<p><strong>Premana, Pangrenyep dan Tamperan</strong><br />
Penunjukkan Premana oleh Sanjaya cukup beralasan karena ia cucu Purbasora. Selain itu, isterinya, Naganingrum, adalah anak Ki Balangantrang. Jadi suami istri itu mewakili keturunan Sempakwaja dan Jantaka, putera pertama dan kedua Wretikandayun.</p>
<p>Pasangan Premana dan Naganingrum sendiri memiliki putera bernama Surotama alias Manarah (lahir 718 M, jadi ia baru berusia 5 tahun ketika Sanjaya menyerang Galuh). Surotama atau Manarah dikenal dalam literatur Sunda klasik sebagai Ciung Wanara. Kelak di kemudian hari, Ki Bimaraksa alias Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, yang akan mengurai kisah sedih yang menimpa keluarga leluhurnya dan sekaligus menyiapkan Manarah untuk melakukan pembalasan.</p>
<p>Untuk mengikat kesetiaan Premana Dikusumah terhadap pemerintahan pusat di Pakuan, Sanjaya menjodohkan Raja Galuh ini dengan Dewi Pangrenyep, puteri Anggada, Patih Sunda. Selain itu Sanjaya menunjuk puteranya, Tamperan, sebagai Patih Galuh sekaligus memimpin &#8220;garnizun&#8221; Sunda di ibukota Galuh.</p>
<p>Premana Dikusumah menerima kedudukan Raja Galuh karena terpaksa keadaan. Ia tidak berani menolak karena Sanjaya memiliki sifat seperti Purnawarman, baik hati terhadap raja bawahan yang setia kepadanya dan sekaligus tak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Penolakan Sempakwaja dan Demunawan masih bisa diterima oleh Sanjaya karena mereka tergolong angkatan tua yang harus dihormatinya.</p>
<p>Kedudukan Premana serba sulit, ia sebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda yang berarti harus tunduk kepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya. Karena kemelut seperti itu, maka ia lebih memilih meninggalkan istana untuk bertapa di dekat perbatasan Sunda sebelah timur Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya, Pangrenyep. Urusan pemerintahan diserahkannya kepada Tamperan, Patih Galuh yang sekaligus menjadi &#8220;mata dan telinga&#8221; Sanjaya. Tamperan mewarisi watak buyutnya, Mandiminyak yang senang membuat skandal. Ia terlibat skandal dengan Pangrenyep, istri Premana, dan membuahkan kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M).</p>
<p>Skandal itu terjadi karena beberapa alasan, pertama Pangrenyep pengantin baru berusia 19 tahun dan kemudian ditinggal suami bertapa; kedua keduanya berusia sebaya dan telah berkenalan sejak lama di Keraton Pakuan dan sama-sama cicit Maharaja Tarusbawa; ketiga mereka sama-sama merasakan derita batin karena kehadirannya sebagai orang Sunda di Galuh kurang disenangi.</p>
<p>Untuk menghapus jejak Tamperan mengupah seseorang membunuh Premana dan sekaligus diikuti pasukan lainnya sehingga pembunuh Premana pun dibunuh pula. Semua kejadian ini rupanya tercium oleh senapati tua Ki Balangantrang.</p>
<p><strong>Tamperan sebagai raja</strong><br />
Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.</p>
<p>Demikianlah Tamperan menjadi penguasa Sunda-Galuh melanjutkan kedudukan ayahnya dari tahun 732 &#8211; 739 M. Sementara itu Manarah alias Ciung Wanara secara diam-diam menyiapkan rencana perebutan tahta Galuh dengan bimbingan buyutnya, Ki Balangantrang, di Geger Sunten. Rupanya Tamperan lalai mengawasi anak tirinya ini yang ia perlakukan seperti anak sendiri.</p>
<p>Sesuai dengan rencana Balangantrang, penyerbuan ke Galuh dilakukan siang hari bertepatan dengan pesta sabung ayam. Semua pembesar kerajaan hadir, termasuk Banga. Manarah bersama anggota pasukannya hadir dalam gelanggang sebagai penyabung ayam. Balangantrang memimpin pasukan Geger Sunten menyerang keraton.</p>
<p>Kudeta itu berhasil dalam waktu singkat seperti peristiwa tahun 723 ketika Manarah berhasil menguasai Galuh dalam tempo satu malam. Raja dan permaisuri Pangrenyep termasuk Banga dapat ditawan di gelanggang sabung ayam. Banga kemudian dibiarkan bebas. Pada malam harinya ia berhasil membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.</p>
<p>Akan tetapi hal itu diketahui oleh pasukan pengawal yang segera memberitahukannya kepada Manarah. Terjadilah pertarungan antara Banga dan Manarah yang berakhir dengan kekalahan Banga. Sementara itu pasukan yang mengejar raja dan permaisuri melepaskan panah-panahnya di dalam kegelapan sehingga menewaskan Tamperan dan Pangrenyep.</p>
<p><strong>Manarah dan Banga</strong><br />
Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya yang ketika itu memerintah di Mataram (Jawa Tengah), yang kemudian dengan pasukan besar menyerang purasaba Galuh. Namun Manarah telah menduga itu sehingga ia telah menyiapkan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang ketika itu sudah berubah nama menjadi Wanagiri, dan raja-raja di daerah Kuningan yang pernah dipecundangi Sanjaya.</p>
<p>Perang besar sesama keturunan Wretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Raja Resi Demunawan (lahir 646 M, ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun 739 ini, Sunda dan Galuh yang selama periode 723 &#8211; 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurang senang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetap hidup atas kebaikan hati Manarah.</p>
<p>Untuk memperteguh perjanjian, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memperistri Kancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya dan berjodoh dengan Kancanasari, adik Kancanawangi.</p>
<p><strong>Keturunan Sunda dan Galuh selanjutnya</strong><br />
Naskah tua dari kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Garut, yang ditulis pada abad ke-13 atau ke-14 memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun parit Pakuan. Hal ini dilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yang merdeka. Ia berjuang 20 tahun sebelum berhasil menjadi penguasa yang diakui di sebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagai raja bawahan Galuh. Ia memerintah 27 tahun lamanya (739-766).</p>
<p>Manarah, dengan gelar Prabu Suratama atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuwana, dikaruniai umur panjang dan memerintah di Galuh antara tahun 739-783.[4] Dalam tahun 783 ia melakukan manurajasuniya, yaitu mengundurkan diri dari tahta kerajaan untuk melakukan tapa sampai akhir hayat. Ia baru wafat tahun 798 dalam usia 80 tahun.</p>
<p>Dalam naskah-naskah babad, posisi Manarah dan Banga ini sering dikacaukan. Tidak saja dalam hal usia, di mana Banga dianggap lebih tua, tapi juga dalam penempatan mereka sebagai raja. Dalam naskah-naskah tua, silsilah raja-raja Pakuan selalu dimulai dengan tokoh Banga. Kekacauan silsilah dan penempatan posisi itu mulai tampak dalam naskah Carita Waruga Guru, yang ditulis pada pertengahan abad ke-18. Kekeliruan paling menyolok dalam babad ialah kisah Banga yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Majapahit. Padahal, Majapahit baru didirikan Raden Wijaya dalam tahun 1293, 527 tahun setelah Banga wafat.</p>
<p>Keturunan Manarah putus hanya sampai cicitnya yang bernama Prabulinggabumi (813 &#8211; 852). Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 &#8211; 891), cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Sejak tahun 852, kedua kerajaan pecahan Tarumanagara itu diperintah oleh keturunan Banga; sebagai akibat perkawinan di antara para kerabat keraton Sunda, Galuh, dan Kuningan (Saunggalah).</p>
<p><strong>Hubungan Sunda Galuh dan Sriwijaya</strong><br />
Sri Jayabupati yang prasastinya telah dibicarakan di muka adalah Raja Sunda yang ke-20. Ia putra Sanghiyang Ageng (1019 &#8211; 1030 M). Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja Wurawuri. Adapun permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa, raja Kerajaan Medang, dan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya, Dharmawangsa. Gelar itulah yang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak.</p>
<p>Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Dharmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya, Dharmawangsa. Pada puncak krisis ia hanya menjadi penonton dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus &#8220;menyaksikan&#8221; Dharmawangsa diserang dan dibinasakan oleh Raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya diancam agar bersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcutta (disimpan di sana) disebut pralaya itu terjapada tahun 1019 M.</p>
<p><strong>Hubungan dengan berdirinya Majapahit</strong><br />
Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu memiliki putra mahkota Rakeyan Jayadarma, dan berkedudukan di Pakuan. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Rakeyan Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur, karena ia berjodoh dengan putrinya bernama Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singhasari.</p>
<p>Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera Sang Nararya Sanggramawijaya, atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya yang dikatakan terlahir di Pakuan. Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke-4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Karena Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya, Raden Wijaya dan ibunya kembali ke Jawa Timur.</p>
<p>Dalam Babad Tanah Jawi Raden Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pasundan. Sebagai keturunan Jayadarma, ia adalah penerus tahta Kerajaan Sunda-Galuh yang sah, yaitu apabila Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu mangkat. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota, karena Raden Wijaya berada di Jawa Timur dan kemudian menjadi raja pertama Majapahit.</p>
<p><strong>Penyatuan kembali Sunda-Galuh</strong><br />
Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh).</p>
<p>Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.</p>
<p>Setelah runtuhnya Sunda Galuh oleh Kesultanan Banten, bekas kerajaan ini banyak disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.</p>
<h2>Referensi</h2>
<div>
<ol>
<li id="cite_note-0"><strong></strong>Ekajati, Edi S. (2005). <em>Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran</em>. Yayasan Cipta Loka Caraka.</li>
<li id="cite_note-1"><strong></strong>Noorduyn, J. (2005). <em>Three Old Sundanese poem</em>. KITLV Press.</li>
<li id="cite_note-2"><strong></strong><em>Naskah Carita Parahyangan</em> (1580), fragmen Kropak 406. Naskah beraksara Sunda Kuno, bahasa Sunda Kuno. Koleksi: Perpustakaan Nasional RI.</li>
<li id="cite_note-3"><strong></strong>Sukardja, H. Djadja, (2002). <em>Situs Karangkamulyan</em>. Ciamis: H. Djadja Sukardja S. Cet-2.</li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangerangmaya.com/kerajaan-sunda-galuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prasasti Perjanjian Sunda &#8211; Portugal</title>
		<link>http://tangerangmaya.com/prasasti-perjanjian-sunda-portugal.html</link>
		<comments>http://tangerangmaya.com/prasasti-perjanjian-sunda-portugal.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 03:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[benteng Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[Enrique Leme]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Portugal]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Demak]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Nasional Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Sunda-Portugal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangerangmaya.com/?p=837</guid>
		<description><![CDATA[Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal atau Padrão Sunda Kelapa adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu (padrão) yang ditemukan pada tahun 1918 di Batavia, Hindia-Belanda. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk &#8220;Raja Samian&#8221; (maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal atau Padrão Sunda Kelapa adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu (padrão) yang ditemukan pada tahun 1918 di Batavia, Hindia-Belanda. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk &#8220;Raja Samian&#8221; (maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda). Padrão ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis.<span id="more-837"></span><br />
Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Kali Besar Timur I), sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Padrao tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia,sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta.</p>
<p><strong>Sejarah</strong></p>
<p>Pada awal abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan perdagangan penting di pantai utara Pulau Jawa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak dan Kesultanan Banten, termasuk Banten dan Cirebon. Khawatir peran pelabuhan Sunda Kelapa semakin lemah, raja Sunda, Sri Baduga (Prabu Siliwangi) mencari bantuan untuk menjamin kelangsungan pelabuhan utama kerajaannya itu. Pilihan jatuh ke Portugis, penguasa Malaka. Dengan demikian, pada tahun 1512 dan 1521, Sri Baduga mengutus putra mahkota, Surawisesa, ke Malaka untuk meminta Portugis menandatangani perjanjian dagang, terutama lada, serta memberi hak membangun benteng di Sunda Kelapa.</p>
<p>Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Sunda untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan. Tahun tersebut bertepatan dengan diselesaikan penjelajahan dunia oleh Magellan.</p>
<p>Komandan benteng Malaka pada saat itu adalah Jorge de Albuquerque. Tahun itu pula dia mengirim sebuah kapal, São Sebastião, di bawah komandan Kapten Enrique Leme, ke Sunda Kalapa disertai dengan barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada raja Sunda. Dua sumber tertulis menggambarkan akhir dari perjanjian tersebut secara terperinci. Yang pertama adalah dokumen asli Portugis yang berasal dari tahun 1522 yang berisi naskah perjanjian dan tandatangan para saksi, dan yang kedua adalah laporan kejadian yang disampaikan oleh João de Barros dalam bukunya Da Asia, yang dicetak tidak lama sebelum tahun 1777/78.</p>
<p>Menurut sumber-sumber sejarah ini, raja Sunda menyambut hangat kedatangan orang Portugis. Saat itu Prabu Surawisesa telah naik tahta menggantikan ayahandanya dan Barros memanggilnya &#8220;raja Samio&#8221;. Raja Sunda sepakat dengan perjanjian persahabatan dengan raja Portugal dan memutuskan untuk memberikan tanah di mulut Ci Liwung sebagai tempat berlabuh kapal-kapal Portugis. Selain itu, raja Sunda berjanji jika pembangunan benteng sudah dimulai maka beliau akan menyumbangkan seribu karung lada kepada Portugis. Dokumen kontrak tersebut dibuat rangkap dua, satu salinan untuk raja Sunda dan satu lagi untuk raja Portugal; keduanya ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522.</p>
<p>Pada dokumen perjanjian, saksi dari Kerajaan Sunda adalah Padam Tumungo, Samgydepaty, e outre Benegar e easy o xabandar, maksudnya adalah &#8220;Yang Dipertuan Tumenggung, Sang Adipati, Bendahara dan Syahbandar&#8221; Sunda Kelapa. Saksi dari pihak Portugis, seperti dilaporkan sejarawan Porto bernama João de Barros, ada delapan orang. Saksi dari Kerajaan Sunda tidak menandatangani dokumen, mereka melegalisasinya dengan adat istiadat melalui &#8220;selamatan&#8221;. Sekarang, satu salinan perjanjian ini tersimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara satu salinan lagi disimpan di Arsip Nasional Torre do Tombo, Lisboa.</p>
<p>Pada hari penandatangan perjanjian tersebut, beberapa bangsawan Kerajaan Sunda bersama Enrique Leme dan rombongannya pergi ke tanah yang akan menjadi tempat benteng pertahanan di mulut Ci Liwung. Mereka mendirikan prasasti, yang disebut padrão, di daerah yang sekarang menjadi sudut Jalan Cengkeh dan Jalan Kali Besar Timur I, Jakarta Barat. Adalah merupakan kebiasaan bangsa Portugis untuk mendirikan padrao saat mereka menemukan tanah baru.</p>
<p>Portugis gagal untuk memenuhi janjinya untuk kembali ke Sunda Kalapa pada tahun berikutnya untuk membangun benteng dikarenakan adanya masalah di Goa/India.</p>
<p>Perjanjian inilah yang memicu serangan tentara Kesultanan Demak ke Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan berhasil mengusir orang Portugis dari Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal ini di kemudian hari dijadikan hari berdirinya Jakarta.</p>
<p><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Padrao ini terbuat dari batu setinggi 165 cm. Di bagian atas prasasti ini terdapat gambar bola dunia (armillarium) dengan garis khatulistiwa dan lima garis lintang sejajar. Lambang ini sering digunakan pada masa pemerintahan Raja Manuel I dan João III dari Portugal. Di atas lambang tersebut terdapat gambar trefoil kecil, yaitu tumbuhan dengan tiga daun.</p>
<p>Pada baris pertama tulisan prasasti tersebut terdapat lambang salib, dan di bawahnya terdapat tulisan DSPOR yang merupakan singkatan dari Do Senhario de Portugal (penguasa Portugal). Pada kedua baris berikutnya terdapat tulisan ESFERЯa/Mo yang merupakan singkatan dari Esfera do Mundo (bola dunia) atau Espera do Mundo (harapan dunia).</p>
<p><strong>Rujukan</strong><br />
1. Heuken, A. (2002). The Earliest Portuguese Sources for the History of Jakarta &#8211; Including All Other Historical Documents from the 5th to the 16th Centuries. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta. hlm. 84.<br />
2. Poesponegoro, M. D.; Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia IV. Kemunculan Penjajahan di Indonesia (edisi pemutakhiran). Balai Pustaka, Jakarta. hlm. 16. ISBN 9794074101. (lihat di Penelusuran Buku Google)<br />
3. Heuken, A. (1982). Historical Sites of Jakarta (edisi ke-6). Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta. hlm. 45.<br />
4. Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, Over 1000 Years of Propsperity and Glory. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.<br />
5. Heuken, A. (2002). hlm. 80.<br />
6. Heuken, A. (2002). hlm. 81.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangerangmaya.com/prasasti-perjanjian-sunda-portugal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikan Ceng Cuan Masakan Khas Cina Benteng</title>
		<link>http://tangerangmaya.com/ikan-ceng-cuan-masakan-khas-cina-benteng.html</link>
		<comments>http://tangerangmaya.com/ikan-ceng-cuan-masakan-khas-cina-benteng.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 07:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[barakuda]]></category>
		<category><![CDATA[ikan alu-alu]]></category>
		<category><![CDATA[ikan ceng cuan]]></category>
		<category><![CDATA[ikan kacang-kacang]]></category>
		<category><![CDATA[ikan samge]]></category>
		<category><![CDATA[kecap manis]]></category>
		<category><![CDATA[muara Sungai Cisadane]]></category>
		<category><![CDATA[pasar lama tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[tauco]]></category>
		<category><![CDATA[Tina Layang Parahyang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangerangmaya.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[Di masa lalu, Kota Tangerang disebut Benteng, mengacu pada hadirnya sebuah benteng besar yang dibangun Belanda di tepi Sungai Cisadane. Benteng itu berfungsi sebagai pos pengintai dan pengamatan untuk mengamankan Batavia dari serangan balatentara Sultan Banten. Cina Benteng juga istilah yang mengacu pada kaum keturunan Tionghoa penghuni Benteng dan sekitarnya. Padahal, menurut kitab sejarah Tina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di masa lalu, Kota Tangerang disebut Benteng, mengacu pada hadirnya sebuah benteng besar yang dibangun Belanda di tepi Sungai Cisadane. Benteng itu berfungsi sebagai pos pengintai dan pengamatan untuk mengamankan Batavia dari serangan balatentara Sultan Banten.<span id="more-834"></span><br />
Cina Benteng juga istilah yang mengacu pada kaum keturunan Tionghoa penghuni Benteng dan sekitarnya. Padahal, menurut kitab sejarah Tina Layang Parahyang, kehadiran kaum Tionghoa di daerah itu sudah ada sejak awal abad ke-15. Para perantau Hokkian itu bermukim di muara Sungai Cisadane, daerah yang hingga kini masih dikenal dengan sebutan Teluk Naga.</p>
<p>Kehadiran kaum keturunan Tionghoa yang sudah lebih dari enam abad di sana dengan sendirinya juga telah meninggalkan jejak kuliner yang nyata. Salah satu masakan Peranakan Tionghoa yang hingga kini masih eksis di Tangerang adalah ikan ceng cuan. Kaum keturunan Tionghoa di Tangerang pun tidak ada yang tahu apa arti ceng cuan ini. Tetapi, umumnya mereka yakin bahwa ikan masak ceng cuan ini adalah hidangan sehari-hari &#8211; bukan jenis masakan yang hanya tampil pada perayaan atau pesta-pesta.</p>
<p>Kaum keturunan Tionghoa umumnya memasak ceng cuan dari ikan samge (ikan alu-alu = ikan kacang-kacang = barakuda). Pada hari-hari perayaan, mereka menggunakan ikan bandeng yang dalam budaya Betawi selalu dianggap sebagai ikan yang mewah. Tetapi, umumnya, ikan tenggiri juga sering digunakan untuk memasak ceng cuan.</p>
<p>Bumbu utama ikan ceng cuan adalah tauco dan kecap manis. Harap diingat, Tangerang dari dulu memang dikenal sebagai penghasil kecap manis dan tauco yang terkenal. Hingga kini, istilah Kecap Benteng masih tetap dipakai untuk menyebut kecap manis buatan Tangerang. Beberapa merk lama juga masih eksis hingga sekarang, dan masih pula dengan teknik serta proses pembuatan cara dulu.</p>
<p>Ikannya digoreng dulu, dan kemudian dimasak dalam kuah tauco dan kecap manis itu. Nada-nada cabe, jahe, bawang merah, dan bawang putih tampil bareng menciptakan citarasa yang sungguh gurih dan segar. Biasanya, bila saya disuguhi ikan ceng cuan dengan nasi putih, saya tidak rela citarasa khas ini &#8220;diganggu&#8221; dengan masakan lain. Artinya, ikan ceng cuan dimakan sebagai lauk tunggal. <em>Mak nyuss!</em></p>
<p>Di kalangan keturunan Tionghoa di Tangerang, ikan ceng cuan hingga kini masih cukup dikenal dan disukai. Maklum, selain membuatnya cukup mudah, masakan ini memang cocok di lidah, dan disukai segala usia.</p>
<p>Satu lapak makanan di Pasar Lama Tangerang merupakan salah satu tempat favorit saya untuk menemukan masakan khas Peranakan ini.</p>
<p>Sumber : Odilia Winneke &#8211; detikFood</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangerangmaya.com/ikan-ceng-cuan-masakan-khas-cina-benteng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tari Cokek Khas Tangerang</title>
		<link>http://tangerangmaya.com/tari-cokek-khas-tangerang.html</link>
		<comments>http://tangerangmaya.com/tari-cokek-khas-tangerang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 11:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Gambang Kromong]]></category>
		<category><![CDATA[Khong ahyan]]></category>
		<category><![CDATA[Nie Hukong]]></category>
		<category><![CDATA[Rebab Dua Dawai]]></category>
		<category><![CDATA[Su Khong]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Sio Kek]]></category>
		<category><![CDATA[Tari cokek]]></category>
		<category><![CDATA[Tehiyan]]></category>
		<category><![CDATA[teluk naga]]></category>
		<category><![CDATA[tuan tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangerangmaya.com/?p=830</guid>
		<description><![CDATA[Geal geol penari wanita begitu elok, gerakan tangan yang lentur serta kibasan selendang semakin menambah koreografi yang menarik, disamping penari perempun gerakan mencak silat penari laki laki dengan gerakan kaki yang menggejik lantai begitu keras, bergantian berputar dan berpandangan, iringan musik khas tradisional terdengar sontar. Tari cokek namanya, tarian  tradisional dari daerah Tangerang  provinsi Banten, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Geal geol penari wanita begitu elok, gerakan tangan yang lentur serta kibasan selendang semakin menambah koreografi yang menarik, disamping penari perempun gerakan mencak silat penari laki laki dengan gerakan kaki yang menggejik lantai begitu keras, bergantian berputar dan berpandangan, iringan musik khas tradisional terdengar sontar.<span id="more-830"></span></p>
<p>Tari cokek namanya, tarian  tradisional dari daerah Tangerang  provinsi Banten, orang tangerang mengenal  Cokek  sebuah tarian tradisional dari daerah Tangerang yang dimainkan pertama kali sekitar abad ke-19.</p>
<p><strong>Versi Tari Cokek</strong><br />
Menurut Ninuk Kleden Probonegoro, seorang peneliti dari LIPI, banyak versi tentang awal kelahiran seni rakyat ini.</p>
<p><em><strong>Versi pertama</strong></em>, cerita dimulai pada masa tuan-tuan tanah menguasai Betawi sekitar abad ke-19, khususnya di daerah yang saat ini dikenal dengan nama Kota atau Beos. Di sana banyak tinggal tuan tanah kaya. Setiap malam Minggu, mereka biasa mengadakan pesta.</p>
<p>Para tuan tanah ini biasanya juga banyak memiliki pembantu yang mahir bermain musik dan menari. Umumnya pesta para tuan tanah ini dimeriahkan oleh musik dari rombongan Gambang Kromong. Saat itulah para pembantu tuan tanah yang terdiri dari gadis-gadis muda itu, melayani tamu-tamu lelaki untuk menari. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai penari Cokek.</p>
<p><em><strong>Versi kedua</strong></em>, Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menutut versi ini, pada saat itu, daerah Tanjung Kait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio Kek. Seperti biasa tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah kelompok musik.Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan China. Ketiga orang ini membawa tiga buah alat musik yaitu, Tehiyan, Su Khong dan Khong ahyan. Ternyata ketiga orang itu juga mahir bermain musik.</p>
<p>Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersama-sama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut, lahirlah musik Gambang Kromong.</p>
<p>Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu, kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Seperti halnya Nie Hukong, Tan Sio Kek lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para cokek, yaitu para penyanyi cokek merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Dalam perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yang mengajak mereka menari atau ngibing.</p>
<p>Bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.</p>
<p>***</p>
<p>Salah satu alat musik yang dibawa dalam tari cokek yakni Rebab Dua Dawai. Dalam sejarahnya Atas permintaan Tan Sio Kek, musisi itu kemudian memainkan alat musik yang mereka bawa dari daratan Cina. Pada saat yang bersamaan, grup musik milik Tan Sio Kek juga memainkan beberapa alat musik tradisional dari daerah Tangerang, seperti seruling, gong serta kendang.</p>
<p>Lantunan nada dari perpaduan alat musik daratan Cina dan Tangerang itu kemudian dikenal dengan nama musik Gambang Kromong. Untuk meramaikan suasana pesta, Tan Sio Kek si tuan tanah pada masanya menghadirkan beberapa orang wanita.</p>
<p>Sesuai permintaan Tan Sio Kek, mereka menari mengikuti alunan musik yang dimainkan para musisi. Para tamu yang menghadiri pesta menyebut ketiga penari itu Cokek. Konon, Cokek merupakan sebutan bagi anak buah Tan Sio Kek. Sejak saat itulah, masyarakat Tangerang di provinsi Banten mulai mengenal nama tari Cokek.</p>
<p>Awalnya tari cokek dimainkan oleh tiga orang penari wanita. Kini, pertunjukan Cokek seringkali dimainkan oleh 5 hingga 7 orang penari wanita dan beberapa orang laki laki sebagai pemain musik dan sebagian ikut mengiringi tarian wanita.  Setiap kali pertunjukan, penampilan penari Cokek disesuaikan dengan ciri khas wanita Banten yakni mengenakan kebaya dan kain panjang sebagai bawahan. Biasanya, warna kebaya yang dikenakan para penari Cokek relatif berkilau ketika terkena sorotan lampu, seperti hijau, merah, kuning, serta ungu.</p>
<p>Yang tak pernah ketinggalan dari penari Cokek yakni sehelai selendang yang mengikat di pinggang penari perempuan.</p>
<p>Berdasarkan cerita senior saya saat itu, tari Cokek biasanya dimainkan sebagai pertunjukan hiburan saat warga Cina Benteng menyelenggarakan pesta pernikahan atau hajatan. Warga Cina Benteng merupakan warga Tionghoa keturunan yang tinggal di daerah Tangerang. Seringkali, tarian ini juga dimainkan sebagai tari penyambutan bagi tamu kehormatan yang berkunjung ke Tangerang.</p>
<p>Lantunan musik Gambang Kromong dan gerakan penari perempuan yang terlihat gemah gemulai menjadi ciri khas dari pertunjukan tari Cokek. Di tengah pertunjukan, penari Cokek biasanya turun ke barisan penonton untuk memilih siapa yang akan diajak untuk menari bersama.</p>
<p>Semakin berkembangnya jaman, tari cokek ini dinilai tarian yang esotis dan terkesan pornoaksi lantaran tarian wanita yang berlengggak lenggok dengan goyangannya bersama laki laki, dan saat ini gerakan tari cokek banyak yang di perbaiki dan di gabungkan dengan beberapa gerakan tari modrn yang lebih dinamis.</p>
<p>Khusus penari cokek laki laki kebanyakan menggunakan gerakan tangan dan gerakan mencak silat.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tamu Terhormat</strong><br />
Sebagai pembukaan pada tari Cokek ialah wawayangan. Penari Cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu penari Cokek menari bersama dengan mengalungkan selendang pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas.</p>
<p>Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin kebelakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.</p>
<p><strong>Dinamis dan Erotis</strong><br />
Suara tiga alat musik gesek asal daratan China, khongahyan, tehiyan, dan su khong, cukup menyayat menusuk gendang telinga. Namun tiga alat gesek khas China itu, seakan memberikan harmonisasi komposisi gambang kromong saat mengiringi tarian onde-onde hasil pengembangan tari Cokek.</p>
<p>Ketiga alat gesek akan terdengar semakin memekik manakala pukulan kendang dan kecrek dimainkan dalam tempo cepat. Distorsi yang dihasilkan justru semakin membuat ritme tarian empat penari Cokek, memperlihatkan goyangan pinggulnya mengikuti irama. Mereka seakan tidak mengenal lelah terus melenggang ditingkahi musik gambang kromong menciptakan irama penuh keriangan. Posisi tubuh penari yang terkadang tegak dan terkadang membungkuk, menampilkan kesan erotis. Demikian pula saat pinggul digoyang, hanya sesekali berputar selebihnya melenggang.</p>
<p>Tarian onde-onde tidak hanya memperlihatkan sisi erotis, tetapi juga dinamisasi gerak. Semisal di sela selancar serta matuk, juga diselingi gerakan nguk-nguk (loncat) yang dilakukan secara bersama-sama. Ada kalanya tarian ditingkahi gerakan tangan dan kepala, mengikuti entakan suara gendang dan kecrek saat tempo nada cepat. Namun gerakan sang penari dapat berubah tiba-tiba manakala te hi ang, su khong, dan khong a yan, mendominasi musik pengiring. Dalam gerakan, antara onde-onde yang belakangan. Dimasukkan dalam khasanah tarian Betawi dengan jaipongan yang juga masuk khasanah tarian Jawa Barat, merupakan bentuk tarian pengembangan dari tarian tradisional. Tarian onde-onde merupakan pengembangan tarian cokek, sedangkan jaipongan pengembangan dari ketuk tilu.</p>
<p>Cokek ini termasuk dalam genre tari rakyat, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat jelata. Genre tari ini terlahir dan dihidupkan oleh komunitas etnik. Secara fungsi untuk upacara dan hiburan, tariannya dapat dibilang sederhana. Dalam penyajiannya jarak antara penonton dan pemain begitu lentur, dengan kata lain tidak ada jarak estetis, serta seluruh penonton terlibat langsung dalam pertunjukkannya.</p>
<p>Sumber : dede rohali, azimutyo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangerangmaya.com/tari-cokek-khas-tangerang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngamandian Ucing</title>
		<link>http://tangerangmaya.com/ngamandian-ucing.html</link>
		<comments>http://tangerangmaya.com/ngamandian-ucing.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 03:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bobodoran Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangerangmaya.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[Najan geus kolot pisan Nini Acah masih keneh beregegeh. Ari masalah pikun mah geus ilahar, ngarana oge nini-nini. Tadi isuk-isuk asup ka warung Somad meureun rek balanja. Bade ngagaleuh naon nini? Mang Somad nanya mani daria (serious:bahasa bulena mah, red) Cik Rinso sabungkus Naha nini téh nyeuseuhan nyalira? Lain keur nyeuseuhan ..,, tapi ngamandian ucing! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Najan geus kolot pisan Nini Acah masih keneh beregegeh. Ari masalah pikun mah geus ilahar, ngarana oge nini-nini. Tadi isuk-isuk asup ka warung Somad meureun rek balanja.<br />
Bade ngagaleuh naon nini? Mang Somad nanya mani daria (serious:bahasa bulena mah, red)<br />
Cik Rinso sabungkus<span id="more-661"></span><br />
Naha nini téh nyeuseuhan nyalira?<br />
Lain keur nyeuseuhan ..,, tapi ngamandian ucing! ceuk si nini tandes<br />
Baruk??? Tong make Rinso nini, ke ucingna paeh geura! Mang Somad reuwaseun bari teu kuat nahan piseurieun.<br />
Nya moal atuh! incu nini oge osok &#8230;!</p>
<p>Sorena Nini Acah ngaliwat ka warung Somad.<br />
Angkat ka mana nini?, ucingna teu dicandak? Somad ngaheureuyan.<br />
Paeh &#8230; ceuk Nini Acah pondok.<br />
Tuh pan &#8230;, ceuk uing oge naon? tong make Rinso bisi paeh, Nini mah bandel! Somad asa meunang set.<br />
Lain paeh ku Rinso, Somad! TEU NANAON BASA DIMANDIAN MAH! si nini sentak sengor<br />
Hah? ari geus? Somad leuleuy, eleh geleng ngalawan si nini mah<br />
Basa dipeureut &#8230; ceuk Nini Acah bari ngaleos.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangerangmaya.com/ngamandian-ucing.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This ain&#8217;t a Love Song</title>
		<link>http://tangerangmaya.com/this-aint-a-love-song.html</link>
		<comments>http://tangerangmaya.com/this-aint-a-love-song.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 03:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bobodoran Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangerangmaya.com/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[Punten sateuacana ieu teh aya kiriman imel ngan duka saha nami nu ngirimna&#8230;. ANONIM&#8230; ari dibaca pikaseurieun euy&#8230;. mangga&#8230;. Sababaraha taun ka tukang. Harita kuring masih kénéh digawé di Carnival Cruising Lines, nyaéta parusahaan kapal pesiar anu jalurna téh ti Miami, Florida, tepi ka Kapuloan Bahama. Boga pancén téh jadi waiter dina dék kapal. Hiji [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punten sateuacana ieu teh aya kiriman imel ngan duka saha nami nu ngirimna&#8230;. ANONIM&#8230; ari dibaca pikaseurieun euy&#8230;. mangga&#8230;.</p>
<p>Sababaraha taun ka tukang. Harita kuring masih kénéh digawé di Carnival Cruising Lines, nyaéta parusahaan kapal pesiar anu jalurna téh ti Miami, Florida, tepi ka Kapuloan Bahama. Boga pancén téh jadi waiter dina dék kapal.<span id="more-658"></span></p>
<p>Hiji mangsa kapal kuring katatamuan ku grup band ti New Jersey, New York. Saha deui mun lain Bon Jovi. Batur sapagawéan mani hariweusweus ngomongkeun Jon Bon Jovi saparakanca. Sok komo barudak awéwé mah teu sirikna histeris. Kuring mah haré-haré baé. Rék Bon Jovi rék Metallica, mangsa bodo! Kuring mah teu pati resep kana musik brang-bréng-brong siga rock music téh. Resep gé kana musik slow panineungan anu biduanna Matt Monroe, Engelbert Humperdink, jeung Simon &#8216;n Garfunkel.</p>
<p>Hiji poé wanci haneut moyan. Para tamu réa nu ngadon moé awak dina dék kapal. Pon kitu deui Mr. Jon Bon Jovi, Mr. Richie Sambora, Mr. David Brian, Mr. Tico Torres, jeung Mr. Alec John Such. Kabeneran kuring ngaliwat ka palebah maranéhna.</p>
<p>Hi, waiter, come here, please! Mr. Bon Jovi ngagentraan. Manéhna ménta orange juice, gancang baé ku kuring ditedunan. Waktu kuring mikeun pesenan Mr. Bon Jovi, Mr. Sambora pesen lemon tea, kuring rikat mangmawakeun. Waktu mikeun pesenan Mr. Sambora, Mr. Torres hayang diet coke jeung kuéh pancake, teu talangké kuring nyadiakeun. Waktu mikeun pesenan Mr. Torres, Mr. John Such ménta susu jeung roti sandwich. Kuring mimiti keuheul. Waktu mikeun pesenan Mr. John Such,<br />
kuring kukulutus maké Basa Sunda, Ieu mah jelema, aya ku ngagawékeun. Cik atuh ari pesen dahareun téh disakalikeun!</p>
<p>Naha atuh ari pok téh Jon Bon Jovi ngomong, Éta mah risiko pagawéan manéh atuh, Céng!<br />
Gebeg kuring reuwas. Baruk Jon Bon Jovi bisaeun ngomong Basa Sunda?</p>
<p>Har, geuning Sadérék téh tiasa nyarios Basa Sunda? kuring nanya tamba éra.<br />
Apan karuhun déwék téh ti Cisurupan, témbalna kalem.<br />
Leng kuring ngahuleng. Asa ngimpi. Naha enya kitu Jon Bon Jovi téh bibit buitna ti Cisurupan Garut? Panasaran kuring nanya deui, Is that right, Sir?</p>
<p>Silaing cangcaya?Ayeuna déwék rék nanya, ari silaing urang mana?<br />
Abdi ogé sami ti Garut.<br />
Garut palebah mana?<br />
Singajaya.<br />
Nyaho Kampung Mariuk di wewengkon Singajaya?<br />
Tangtos atuh da abdi téh urang dinya.<br />
Wawuh ka Mang Sadeli tukang nyadap?<br />
Kenal pisan.<br />
Bisi teu nyaho, anjeunna téh baraya déwék, geureuhana téh rayina Ajengan Syukron ti Cisurupan, ari déwék ka Ajengan pernahna kapiemang.<br />
Kuring ngan bati olohok. Teu sangka, Jon Bon Jovi biduan hardrock nu kasohor saalam dunya téh geuning masih kénéh teureuh Garut.</p>
<p>Ti harita kuring jadi mindeng ngawangkong jeung manéhna. Anu matak kuring jadi apal silsilah kulawargana. Bapana téh jenenganana Haji Suja&#8217;i patani tomat anu beunghar ti Cisurupan. Ari indungna téh Mrs. Mary Joe Martin, pituin urang New Jersey. Aranjeunna tepang di Kota Madinah, dina mangsa munggah haji.</p>
<p>Haji Suja&#8217;i henteu mulih deui ka Indonésia tapi ngiring sareng ingkang geureuha ka Amérika. Di New Jersey, padamelan Haji Suja&#8217;I tetep baé ngebon tomat. Mrs. Suja&#8217;i banget suhud ngawulaan carogé.<br />
Tepi ka waktu kakandungan ku si cikal, Mrs. Suja&#8217;i méh baé sabrol- broleun di kebon tomat, duméh tas nganteuran timbel keur Mang Haji. Éta nu jadi matak si cikal lalaki téh ku bapana dingaranan Ujang Obon Suja&#8217;i.</p>
<p>Tapi ku lantaran lingkungan gaul urang bulé, babaturan ulinna téh hararésé ngucapkeun ngaranna. Nya tuluyna mah dilandi baé jadi Jon Bon Jovi.</p>
<p>Sanggeus ngangkleung salila sapuluh poé, kapal balik deui ka Palabuan Miami. Jon Bon Jovi saparakanca jrut tarurun tina kapal rék nuluykeun lalampahanana ka New Mexico. Béjana rék shooting vidéoklip Blaze of Glory.</p>
<p>Barang rék jrut turun, Jon ngaharéwos, Iday, lamun silaing rék mulang ka Garut, béjaan déwék, nya. Rék ku télépon, faksimil atawa e-mail, kumaha silaing baé. Déwék hayang milu. Haté téh geus kumejot hayang moro bagong jeung Mang Sadeli ka Cikuray.Kuring ngaheueuhkeun.</p>
<p>TILU bulan ti harita, kuring meunang cuti taunan. Maksud téh rék nyelang balik ka Garut. Ku lantaran kitu kuring nélépon ti Miami ka New Jersey ngabéjaan Ujang Obon. Ngan ampun rudetna. Kuring dipingpong ka ditu ka dieu. Ti imahna dititah nélépon ka Fans Club. Ari pék téh ti FC kudu asup heula waiting list. Lamun henteu kudu ngomong langsung ka promotion manager, kakara nungguan akréditasi. Jeung deui anu nampa télépon téh budak lalaki nu ngomongna semu<br />
selébor siga biduan rap music maké basa Inggris lentong Brooklyn, New York.<br />
Hi, man&#8230; stay cool okay&#8230;easy buddy, easy.., pokna. Moal salah, pasti urang négro barayana M.C. Hammer.<br />
Bakat ku pusing, ceuleuweung baé kuring dina telepon, Hi, stupid American&#8230; listen to me! You just tell to your boss, this phone call is from Iday. I came from Singajaya&#8230; What?&#8230; No! Singajaya is located in Indonesia, not Africa&#8230; Do you understand?<br />
Naha atuh témbalna ti béh ditu, Har&#8230; geuning Kang Iday, ayeuna mah sora budak awéwé mani halimpu jeung maké basa Sunda.</p>
<p>Kuring curinghak banget ku atoh, Dupi ieu sareng saha?<br />
Abdi téh adi kelas akang waktos sakola di Madrasah Aliyah Musaddadiyah Garut.<br />
Saha nya?<br />
Atikah.<br />
Nyimas Atikah putrana Haji Tamim ti Bungbulang?<br />
Sumuhun.<br />
Naha Nyimas aya di New Jersey?<br />
Di dieu téh abdi digawé di Bon Jovi Management, diajak ku Mang Haji Suja&#8217;i.<br />
Oh, kitu&#8230; kieu baé Nyimas, wartoskeun ka Jon Bon Jovi, urang miang ka Garut téa. Ngarah teu réncéd, akang rék hiber langsung ka Honolulu, diantos baé di Hotél Sheraton Waikiki,Hawaii.<br />
Mangga, Insya Alloh ku abdi badé didugikeun.<br />
Plong haté téh ngemplong. Teu sakara-kara geuning ari ngomongjeung baraya salembur mah.</p>
<p>Opat poé ti harita, pasosoré, Boeing 747 Northwest Airlines anu mawa kuring jeung Ujang Obon alias Jon Bon Jovi geus eunteup di Bandara Soekarno-Hatta. Sanggeus nyokot babawaan ti pabéan, Ujang Obon ngomong, Iday, urang ngéndong di Bandung baé, déwék mah teu betah saré di Batawi téh.<br />
Heueuh, lah.<br />
Ayeuna urang rék maké naon miang ka Bandung?<br />
Nya tumpak beus ti Terminal Kampung Rambutan, atuh.<br />
Ah embung déwék mah, &#8230; ari di dieu aya séwaan limousine?<br />
Silaing mah olo-olo pisan! Apan di New York ogé tuman naékangkot!</p>
<p>Jon Bon Jovi keukeuh hayang tumpak limousine alias sédan méwah sasis panjang téa. Sok nyeri cangkéng lamun tumpak sédan biasa mah, basana téh.<br />
Dasar milyunér, mani élodan pisan! kuring kukulutus.<br />
Kapaksa kuring mapay néléponan réntal mobil sa-Jakarta. Untung baé aya nu nyéwakeun sédan pangantén, Volvo 960 Limo-turbomatic, hiji-hijina mérek sédan limousine anu asup ka Indonésia.</p>
<p>Tabuh salapan peuting. Sakadang Volvo anu ditumpakan ku kuring duaan jeung Ujang Obon katilu supir geus tepi ka Bandung anu saterusna langsung check-in di Grand Hotel Preanger. Bakat ku capé jeung tunduh, rérés salat isa teu kungsi mandi heula, kuring dugsek saré mani tibra.</p>
<p>Kira-kira tabuh satengah dua peuting, panto kamar aya anu ngetrokan. Kuring ngoréjat, Saha?<br />
Déwék, Obon.<br />
Bari lulungu, kuring mukakeun panto, Aya naon, Jang?<br />
Beungeut Jon kaciri mani sepa. Ku naon yeuh? gerentes haté.</p>
<p>Teuing euy, déwék téh teu bisa saré&#8230;tamba kesel tuluy nyieun lagu. Rumpakana mah geus anggeus, tinggal nyieun judulna wungkul.<br />
Geus atuh, ayeuna mah saré baé heula&#8230;mikiran pijuduleun lagu mah isuk deui baé, témbal kuring bari merelek heuay.<br />
Anu matak teu bisa peureum-peureum acan. Kieu balukarna lamun béakeun barang téh. I have no stuff anymore, ceuk Jon bari meubeutkeun manéh kana korsi.</p>
<p>Kuring kerung. Béakkeun barang? Dina basa American slank, kecap stuff hartina sarua jeung dope atawa drugs alias obat bius. Boa-boa Ujang Obon sok tripping? Ongkoh geus ilahar pikeun kaom American celebrities mah ngonsumsi narkotika sabangsaning héroin,kokain, atawa crack (kokain sintétis) téh.<br />
Barang naon? PTP? LSD? Ecstacy? Diazepam? Amphetamine? Rék meuli anu kitu di dieu mah hésé.<br />
Lain atuh, ieu mah ududeun.<br />
Mariyuana? Hashish? Ganja? Sarua héséna, Jang.<br />
Silaing mah nyangka goréng baé ka déwék téh! Ieu mah udud roko biasa, deuleu! témbal Ujang Obon bari nyeuneu.</p>
<p>Oh&#8230;gampang atuh ari nu kitu mah. Meuli baé di kafé, sugan buka kénéh.<br />
Anu matak euweuh.<br />
Euweuh? Piraku euweuh Marlboro, Lucky Strike, Camel, Mild Seven, Chesterfield?<br />
Lain éta roko kabeuki déwék mah.<br />
Oh, roko kéréték? Dji Sam Soe, Gudang Garam Filter, atawa Bentoel?<br />
Lain, lain éta.<br />
Roko mérek naon atuh kabeuki silaing téh? kuring mimiti keuheul.</p>
<p>Jon Bon Jovi melong ka kuring. Bari meureudeuy semu éra, manéhna ngomong lalaunan, Roko Cap Gentong&#8230;<br />
Leng kuring ngahuleng, awahing ku reuwas awor jeung hayang seuri. Baruk Jon Bon Jovi nyandu udud roko Cap Gentong? Naha teu salah kitu? Tagog baé vokalis hardrock music nomer wahid, lamun indit-inditan kudu baé maké sédan limousine, ari heug kalandep kana ngudud roko Cap Gentong?!<br />
Kungsi sotéh kuring meuli roko nu kitu mangsa kuring keur kaédanan lalajo ronggéng dombrét di basisir Blanakan, Subang.</p>
<p>Jon Bon Jovi sahinghingeun ceurik. Euh, aing mah! Lamun henteu digugu kahayangna kuriak matak gujrud sakuliah hotél. Ngérakeun pisan!<br />
Sanajan horéam nataku, kuring maksakeun manéh, Hayu atuh, urang néangan.<br />
Manéhna mani haripeut. Ka mana néanganana, nya?<br />
Urang mapay baé, ka Pasarbaru, ka Bojongloa, ka Tegallega, ka Cicadas, lamun kapaksa-kapaksa teuing mah urang meuli baé roko klembak menyan di tukang rampé, témbal kuring ngaheureuyan manéhna. Jon nyéréngéh.</p>
<p>Jon jeung kuring kaluar ti hotél tumpak taksi. Palebah Cicadas, taksi dieureunkeun. Jrut turun, tuluy leumpang mapay émpér toko bari miharep susuganan aya jongko anu ngajual roko kameumeutna Jon Bon Jovi.</p>
<p>Kabeneran leumpang téh ngaliwatan riungan tukang béca anu keur maén gapléh dina trotoar jalan. Ari heug téh kadéngé aya anu ngomong, Najis, aing mah&#8230;balak kosong! Ger riungan téh sareuri éak-éakan. Ngadéngé kitu, Jon ngarandeg bari tuluy ngahuleng.<br />
Ku naon, Jang? kuring nanya rada hariwang.</p>
<p>Manéhna teu némbal. Rada lila manéhna ngahuleng. Naha atuh ari gorowok téh, Eureka! that&#8217;s right! Éta pisan pijuduleun lagu téh!</p>
<p>Jon katempo jigrah pisan.<br />
Iday, hayu urang balik ka hotél!<br />
Apan urang néangan roko téa? banget kuring teu ngarti.<br />
Teu kudu, urang meuli roko saaya-aya baé di hotél! témbal manéhna sumanget naker.<br />
Har&#8230; ari silaing?! kuring ukur werat ngageremet.</p>
<p>Ayeuna kuring geus teu digawé dina kapal deui. Miami, Kingston, Nassau, Puerto Rico, Bahamas, Antigua ngan kari waasna. Ti saprak kuring kawin meunangkeun parawan urang Cikajang, kuring eureun ngalalana. Pagawéan kuring ayeuna mah ngabantuan bapa mitoha kana ngebon engkol jeung wortel.</p>
<p>Sabulan ka tukang, grup band Bon Jovi ngayakeun konser musik Crossroad to The East di Jakarta. Ujang Obon ngahaja ngirim télégram ka Cikajang. Sono hayang panggih, basana téh.</p>
<p>Éra-éra ogé kuring nedunan ondanganana. Harita kuring indit ka Batawi téh sakalian ngirim wortel ka Pasar Induk Kramatjati. Sabalikna ti pasar, kuring nyimpang ka Hotél Hilton International. Barang sup ka lobby hotél, aya nu ngagentraan. Kang Iday! cék sora awéwé.</p>
<p>Ari dilieuk, kuring olohok mata simeuteun. Atikah imut. Aduh, ieung&#8230; urut kabogoh téh mani jadi démplon kieu, gerentes haté. Hanjakal baheula kalah ditinggalkeun&#8230;hé&#8230;hé&#8230; Diteuteup ti luhur<br />
ka handap, katara awakna tambah ngeusi jeung tambah geulis, ngan dangdosan mah tetep baé nganggo busana muslimah, leungeun katuhu ngeupeul Nokia, leungeun kénca ngajinjing IBM Notebook.</p>
<p>Hey, teu kénging melong sapertos kitu. Engké ku abdi diwartoskeun ka Ceu Empat di Cikajang geura, manéhna ngagonjak. uring ngélémés éra ngadéngé Atikah nyebut ngaran pamajikan.</p>
<p>Kang, Ujang Obon tos ngantosan ti tatadi, hayu! Kuring nuturkeun manéhna naék lift. Reg lift eureun di tingkat pangluhurna, president suite.</p>
<p>Barang amprok jeung Jon Bon Jovi, manéhna ukur maké kaos utung jeung disasarung. Manéhna teu sirikna ngagabrug. Saterusna kuring jeung manéhna alécok ngawangkong.</p>
<p>Sanggeus rinéh, Iday, silaing inget kénéh waktu nganteur déwék néangan roko ka Cicadas téa?<br />
Tangtu baé atuh. Naha kumaha kitu?<br />
Apan omongan tukang béca anu keur maén gapléh téa jadi judul lagu kokojo keur albeum déwék anu panganyarna, témbalna semu agul bari ngasongkeun CD anu weuteuh kénéh.</p>
<p>Barang maca judul lagu kokojo anu dicitak dina bungkus CD, cakakak kuring seuri ngeunah pisan. Atuda kuring ogé milu ngadéngé, atra pisan tukang béca téh ngomong, Najis, aing mah!&#8230; balak kosong!</p>
<p>Naha atuh ari dina judul lagu bet jadi robah kieu? Teuing Jon Bon Jovi anu ceuli léntaheun atawa pédah nulisna maké basa Inggris lentong New Jersey. Nu sidik, dina éta CD téh ngajeblag tulisan anu<br />
judulna, Best cut: This ain&#8217;t a Love Song..</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangerangmaya.com/this-aint-a-love-song.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

